Subject: Reuni -Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi-
Hanya sebuah cerita....tapi menarik u ngabuburit.....;-)
Sesungguhnya Allah disisi-Nya ilmu (tentang) kiamat, dan Dia menurunkan
hujan
dan mengetahui apa-apa dalam rahim. dan tiada seorang mengetahui apa
yang akan
dikerjakan besok dan tiada seorang mengetahui di bumi mana dia akan
mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (Luqmaan :34)
----- Original Message ----- From: -bowo-
R e u n i
Reuni dengan teman-teman lama selalu bisa memberikan kejutan-kejutan,
yang
menyenangkan ataupun tidak. Apalagi setelah berpisah dua puluh tahun.
Dalam
sebuah reuni 'tanpa direncanakan' dengan teman-teman kuliah dua puluh
tahun
yang lalu berbagai cerita disampaikan oleh masing-masing. Setelah puas
mengomentari penampilan fisik masing-masing, "Kok berubah drastis? Kok
'panggah' saja? Dandy amat kamu sekarang, punya istri baru ya ?
Rambutmu
kamu taruh dimana? Badan melar gitu kok ya nekat pakai baju ketat" dan
lain-lain.
Dilanjutkan dengan bertanya bagaimana kabar masing-masing, berapa anak,
bagaimana pekerjaan, dan lain-lain.
Percakapan dengan tidak terasa mengalir begitu saja.
"Piye kabarnya si Ita, ada yang tahu nggak?"
Tiba-tiba ada yang bertanya tentang seorang teman yang jadi 'bunga'
kelas
karena kecantikannya dan menjadi rebutan banyak 'kumbang' termasuk
kami-kami ini.
"Lho, dia kan udah meninggal setahun yang lalu karena penyakit ginjal.
Cukup lama lho dia menderita karena harus cuci darah seminggu dua
kali."
Seseorang menyahut Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Diam-diam saya
bersyukur nggak 'jadian' sama dia. Soalnya dia juga nggak mau sama saya
sih!
"Eh, tahu nggak. Si Ani sekarang tinggal di Australia lho!"
"Lho kok bisa? Apa suaminya disekolahkan lagi?"
"Hi...hi..! Nggak tahu ya! Dia kan udah cerai dengan suaminya yang lalu
dan
lantas kawin sama bule Strali."
"Haa..?! Saya tidak bisa menahan rasa terkejut saya. Bagaimana mungkin
teman yang dianggap pasangan paling ideal waktu itu bisa cerai dan
kemudian
kawin dengan bule dan tinggal di Australi. (Lantas bagaimana dengan
anak
dan suaminya ya? Padahal suaminya baik sekali lho!)
"Eh, tahu si Anu nggak.. dia sekarang udah jadi pejabat penting di
Departemen Perhubungan. Kalau mau ketemu Menteri Perhubungan mesti
lewat
dia katanya."
"Ha..?! Anak 'lolak-lolok' gitu bisa jadi pejabat penting?!"
Surprise. Padahal dulu saya 'meramal' teman yang satu ini bakal
kesulitan
dalam kariernya. Lha wong emampuannya pas-pasan dan penampilannya
'ndeso'
gitu. Tapi..nasib orang siapa tahu?
"Masih ingat si Ina? Dia sekarang udah hampir menyelesaikan program
Doktornya lho!
"Ha.?! Bagaimana bisa ? Dulu diakan hampir drop-out karena nilainya
ancur-ancuran?!
"Ya, setelah lulus ia lalu melamar jadi dosen di luar Jawa. Disana
kariernya melaju dengan mulus. Ia sekarang jadi Ketua Jurusan"
Another surprise. hampir tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa
teman
yang satu ini akan berkarir jadi dosen. Bagaimana mungkin, sedangkan
jadi
mahasiswa saja dulunya dia kami anggap 'tidak layak' saking rendahnya
prestasi akademisnya. Tapi sekarang... hampir menyelesaikan program
doktornya. What a surprise!
Ternyata bukan hanya dia yang berkarir jadi dosen. Ada empat teman
lainnya
yang berkarir sama di berbagai PTN bergengsi di berbagai kota. Dan
hampir
semua dari mereka justru teman-teman yang tidak memiliki prestasi
akademis!
Salah seorang diantaranya bahkan begitu pendiamnya sampai kami beri
nama
sebutan 'Gong', kalau tidak dipukul tidak berbunyi. Kok bisa-bisanya ia
jadi dosen dan ngajar di depan kelas! Dunia memang penuh kejutan.
Sejenak
kami kemudian saling olok karena ternyata karier kami yang dulunya
punya
prestasi akademik lebih baik ternyata tidak secemerlang teman yang dulu
kami anggap 'di bawah anjing' alias 'underdog' itu.
"Si Fulan gimana kabarnya? Ada yang tahu, nggak" Si Fulan ini 'the
brightest student' di angkatan kami dan merupakan kebanggaan kelas kami
"Kasihan lho dia. Setelah keluar dari bank karena rasionalisasi dan
bertahun-tahun nggak punya pekerjaan tetap sekarang dia terpaksa
menerima
pekerjaan ngajar mulai Subuh hingga Isya'"
"Ha.!" Kami sejenak terpana membayangkan betapa nasib 'menelikung'
teman
yang 'bright' ini. Dulu rasanya kami semua yakin bahwa ia pasti akan
memiliki masa depan yang cerah karena kepintarannya. Ia dengan mudah
diterima
bekerja di bank terkenal dan kariernya meroket. Terakhir ia menjabat
sebagai kepala cabang dan kariernya amblas setelah bank tersebut kena
likuidasi. Ia mencoba melamar ke bank-bank lain tapi prospek perbankan
ternyata tidak bersahabat lagi dengannya. Dengan sisa-sisa tabungannya
ia
mencoba bertahan sampai akhirnya ia harus menyadari bahwa ia harus
bekerja
apa saja. Mengajar bahasa Inggris privat dan di sekolah-sekolah swasta
mungkin adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.
Seorang teman lain yang juga memiliki prestasi akademik tinggi ternyata
nasibnya juga tidak bisa dikatakan cerah. Kariernya datar saja,
termasuk
kemampuan finansialnya. Ada juga seorang teman yang termasuk 'Top Gun'
yang
bekerja di BUMN dan memiliki karir cerah tapi mendapat masalah dalam
kehidupan keluarganya.
Want to hear another surprise? Seorang teman yang kami panggil 'Pak
Kyai'
saking alimnya ternyata kecantol dengan 'santri'nya dan membuat
keluarganya
berantakan. Padahal dulu dia selalu menasihati saya agar jangan
mempermainkan hati wanita kalau dia lihat saya sudah mulai pedekate
pada
gadis lain. Dalam hati saya istighfar berkali-kali. Kok bisa ya.?!
Dua puluh tahun waktu berlalu dan begitu banyak peristiwa terjadi.
Hidup
memang penuh dengan kejutan yang tidak terduga. Saya masih juga sulit
untuk
mengerti bagaimana nasib bisa mempermainkan hidup kita.
Padahal dulu saya iri banget pada teman-teman yang 'sempurna'. Otak
encer,
tongkrongan yahud, duit berlimpah, pergaulan luas. Everything was so
easy
for them. Eh., kok ya sekarang di 'sliding tackle' sama nasib.
Alhamdulilah nasib tidak turut 'menjegal' saya. Dalam banyak hal justru
nasib saya lebih baik daripada teman-teman yang dulunya rodanya ada di
atas.
Ya, Allah! Jadikan hamba termasuk golongan orang-orang yang bersyukur.
Amin!
Kala Pernikahan Dilelang...
Publikasi: 06/11/2003 09:52 WIB
eramuslim - Nama Amih, umur 25 tahun, status janda.... Mata saya langsung terfokus pada kata- kata "janda" di fotokopian KTP yang saya baca. Refleks saya berujar sedikit keras "Umur 25 tahun, sudah janda?" Temen disebelah meja saya langsung meledek. "Memangnya kamu Din, umur mau 26 status masih single.... dia masih mending, punya rekor menikah sekali, walaupun gagal... "
"Eitsss... jangan salah, emangnya nikah itu bisa asal-asalan apa? Mending status single lah daripada nikah tanpa adanya komitmen yang baik antar dua belah pihak!" cerocos saya sedikit sewot, teman saya malah tertawa-tawa meledek... dasar !!
Saya tambah penasaran ingin segera bertemu dengan orangnya, ingin ngobrol sekalian interogasi, bukannya ingin mengorek privacy orang, hanya sekedar ingin tahu saja, ngga salah kan?
Hari Senin tanggal 25 Agustus 2003 dia mulai masuk kerja, Perusahaan tempat saya bekerja memang sedang merekrut office girl baru Kebetulan meja saya berdekatan dengan meja HRD, jadi iseng-iseng saya baca KTP dan daftar Riwayat hidupnya, dia lulusan SMP, dan tinggal di kampung disekitar kawasan industri tempat saya bekerja. Perusahaan memang sengaja merekrut orang-orang kampung sebagai cleaning service dan office girl, karena memang ada kesepakatan antara pihak kampung dengan pengelola kawasan industri agar memprioritaskan orang-orang kampung sekitar kawasan sebagai tenaga kerja. Dulunya kawasan industri ini lahannya adalah milik orang-orang kampung yang kena gusuran karena akan didirikannya kawasan ini delapan tahun yang lalu.
Akhirnya tibalah hari Senin itu, saat makan siang sengaja saya duduk dekat dengannya...sedikit SKSD ( Sok kenal Sok dekat ). Sssst... saya terlalu penasaran ingin tahu kisahnya. Setelah pembicaraan yang agak lama akhirnya pembicaraan kami terfokus juga ke hal yang satu itu.
"Dulu sebelum kerja, disini, pernah kerja dimana?" tanya saya sedikit penasaran.
"Dulu saya jualan gorengan bu deket rumah, cuman karena anak saya udah mulai SD jadi saya nyari kerja yang gajinya lumayan buat biayain anak. Untungnya saya keterima kerja di sini," jawabnya lugu.
"Oooo, Amih udah punya anak, umur berapa tahun?" tanya saya lagi. Wah sudah mulai ngena pada apa yang mau saya tanyakan nih.
"Umur tujuh tahun bu, anak satu-satunya, saya nikah umur 17 tahun bu, trus pisah sama suami pas saya lagi hamil 3 bulan, abisnya suami saya suka main judi , minum dan sering gak pulang, saya gak tahan lagi bu. Jadi saya pulang kerumah orangtua saya," tanpa saya tanya lebih lanjut cerita itu meluncur sendiri dari bibirnya.
" Berarti sekarang kamu udah cerai?"
" Ngga cerai bu, cuman pisah aja, sampe sekarang ngga ada surat cerai, tapi dia udah kawin lagi sama perempuan kampung sebelah, dia gak pernah kasih biaya dan gak mau liat anaknya, sampe sekarang anak saya gak tau wajah bapaknya," ceritanya panjang lebar. "Memangnya dulu kamu kenal dia berapa lama sebelum mutusin buat nikah?" "Saya pacaran 2 tahun bu, dulu sih dia baik banget, gak ada keliatan suka main judi pokoknya baik banget deh bu, maka nya saya mau aja waktu dia ngajak kawin. Lagian di kampung saya umur 17 tahun itu dah pada nikah bu, orang tua saya juga nyaranin buat nikah aja, lumayan juga biar ngeringanin biaya orangtua," ujarnya polos.
Dada saya sedikit sesak mendengar penuturannya, lagi-lagi saya harus mendengar penuturan perempuan-perempuan polos dan lugu yang gagal dalam pernikahannya. Saya jadi teringat 6 bulan yang lalu, saat itu khadimat dirumah berhenti bekerja karena ingin istirahat dikarenakan sakit. Sedikit kesulitan juga mencari penggantinya, karena pembantu jaman sekarang harus benar-benar orang yang dapat dipercaya, kebetulan pembantu di rumah kakak saya bilang kalau dia punya kakak perempuan di kampungnya yang sekarang nganggur dan ingin bekerja, maka jadilah kami buat kesepakatan untuk bertemu kakaknya dan melakukan sedikit wawancara.
Saat datang kerumah, dia ditemani ibunya dan adiknya yang masih balita. Setelah ngobrol perihal pekerjaan yang akan ditugaskan, sedikit bercanda saya lontarkan pertanyaan, "Kok kakak beradik beda banget wajahnya, biasanya suka ada mirip-miripnya." Tanpa diduga si ibu nya calon khadimat kami itu menjawab, "Anak- anak saya, ketiga-tiga nya beda bapak, saya nikah empat kali, dari suami pertama sih gak dapet anak, dan tiga anak ini dari suami kedua, ketiga dan keempat, jadi gak ada yang sama bapaknya..." tutur si ibu dengan wajah lugunya, padahal umur si ibu itu sekarang baru 31 tahun. Tapi rekor menikahnya sudah empat kali...
Astagfirullah... Saya dan ibu saya sampai terbengong-bengong mendengarnya.
"Yah namanya dikampung, kalau umur lima belas dan udah lulus SD yaa tinggal nunggu dikawiniin, nerusin sekolah juga gak ada biaya, trus daripada dibilang perawan tua jadi ya kawin aja., trus kalo ngga cocok, berantem terus ,jadi ya cerai trus kawin lagi ma yang lain..."tuturnya dengan amat ringan. Saya yang terkaget-kaget... semudah itukah??
Haruskah pernikahan dijelang dengan pemikiran yang teramat "polos" seperti itu? Haruskah nantinya anak - anak lagi yang akan menjadi korban sehingga mereka akhirnya tidak terbiayai sekolahnya dan harus menerima nasibnya sebagai pembantu rumah tangga diusia 13 ataupun diam dikampung untuk kemudian mengikuti jejak ibunya. Dinikahkan di usia muda belia tanpa pemahaman yang baik tentang segala hal menyangkut pernikahan? Mending kalau pas lagi mujur bertemu dengan laki-laki yang punya tanggung jawab, kalau sebaliknya? Haruskah mata rantai itu terus menerus berputar dan tidak pernah terputus sehingga kesengsaraan terus menerus berlangsung?
Haruskah pernikahan dijelang karena kita takut dibilang "ngga laku" , "Perawan tua", dan lain sebagainya ? Sehingga karena ketakutan - ketakutan semacam itu membuat kita jadi asal pilih, asal nikah biar ngga ada lagi orang yang meledek? Tentu tidak...!!! Tapi memang tidak semua orang punya pilihan untuk mempertahankan keinginan - keinginan pribadinya, untuk menentang keinginan - keinginan orang disekitarnya terutama orangtua, terutama dikampung - kampung yang memang latar belakang pendidikan dan pemahaman tentang konsep pernikahan amat minim, sehingga benar-benar terdesak dalam posisi menerima apa adanya.
Haruskah pernikahan dijelang hanya untuk memuaskan hasrat biologis, lalu setelah bosan maka ditinggalkan begitu saja seperti habis manis sepah dibuang? Haruskah pernikahan dijelang untuk saling menyakiti dan menunjukkan siapa yang lebih berkuasa dalam rumah tangga?
Haruskah pernikahan dijelang demi prestise semata dengan pesta yang teramat meriah sementara pernikahannya hanya seumur jagung dan tanpa makna?
Sudah jadi tradisi sebuah pernikahan dikampung - kampung yang dirayakan dengan amat meriah, orkes dangdut semalam suntuk yang memekakan telinga, layar tancap, pesta 3 hari 3 malam. Ada juga yang sampai 7 hari 7 malam dan yang lebih mengejutkan lagi, keluarga-keluarga yang ekonominya pas-pasan pun saat menikahkan anak gadisnya seolah tidak mau kalah meriah, entah darimana uangnya. Mereka lebih memilih menikahkan anak-anaknya yang masih usia sekolah dengan meriah dibanding harus mengeluarkan biaya untuk sekolah anak-anaknya. Alasannya katanya supaya beban tanggungjawab biaya terlepas, padahal kenyataan yang ada malah sebaliknya, anak - anak gadis mereka banyak yang cerai dan kembali pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa anak. Bukankah itu namanya malah bukan memperingan biaya tapi malah menambah biaya dan beban bagi orangtua nya? Itu juga terjadi dikampung jauh di belakang komplek perumahan saya, karena pembantu kami dulu berasal dari sana, jadi saya sering mendengar ceritanya dari beliau.
Haruskah pernikahan dijelang tanpa persiapan, pemahaman agama, komitmen dan konsep yang jelas tentang segala hal dalam rumah tangga?
Haruskah pernikahan dijelang tanpa melibatkan Allah dalam setiap doa kita untuk mendapatkan jodoh yang terbaik menurut pandangan Allah? Karena yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik dalam pandangan Allah.
Tentu saja jawaban dari semua pertanyaan itu adalah. TIDAK....
Pernikahan dijelang TIDAK untuk saling menyakiti, TIDAK untuk saling menonjolkan diri siapa yang lebih berkuasa dan siapa yang tidak, pernikahan dijelang bukan untuk unjuk kekuasaan, bukan untuk kenikmatan sesaat..dan masih banyak lagi.
Seperti yang ditulis Al- Imam Fakhrudddin Ar-Razi yang saya kutip dari buku "Wawasan Al- Quran" Bab Pernikahan Karya Dr.M.Quraish Shihab,
"Keberhasilan Perkawinan tidak tercapai kecuali jika kedua belah pihak memperhatikan hak pihak lain. Tentu saja hal tersebut banyak, antara lain adalah bahwa suami bagaikan pemerintah, dan dalam kedudukannya seperti itu, dia berkewajiban untuk memperhatikan hak dan kepentingan rakyatnya ( istrinya ). Istri pun berkewajiban untuk mendengar dan mengikutinya, tetapi disisi lain perempuan mempunyai hak terhadap suaminya untuk mencari yang terbaik ketika melakukan diskusi."
Selain itu pula, Abdul Halim Abu Syuqqah dalam bukunya "Kebebasan Wanita" mendeskripsikan keadaan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan dengan amat indahnya:
"Laki-laki adalah benteng keamanan yang dapat dipercaya, yang penuh dengan rasa cinta dan kasih saying, yaitu tempat si wanita ( istri ) mencari ketenangan dan ketentraman. Dan wanita adalah lahan subur yang sejuk dan rindang, yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, yaitu tempat si laki-laki ( suami ) mencari ketenangan dan ketentraman.
Sesungguhnya kebesaran laki-laki tampak dalam persahabatannya dengan wanita ( istri ) yang saleh, hingga ia berhasil dalam kerja nya, dan berjuang keras untuk menjunjung tinggi bangsanya dan membangun umatnya.
Dan kebesaran wanita hanya muncul dan bersinar dalam persahabatannya dengan suami yang saleh, sehingga ia menjadi matahari yang menyinari, merpati yang mengepakkan sayap, bunga yang harum semerbak, dan tempat tinggal yang menyenangkan."
Para wanita, termasuk saya tentunya, siapkah menjadi matahari yang menyinari..merpati yang mengepakkan sayap, bunga yang harum semerbak dan tempat tinggal yang menyenangkan nanti disaat pernikahan itu tiba di depan mata?
Para lelaki...siapkah menjadi benteng keamanan yang dapat dipercaya ? Dan bisa menjadi sahabat tempat berdiskusi segala hal dengan istri...?
Semua tergantung kita...yang akan menjalaninya.. jawabannya... cukup dihati saja...
Semoga tidak ada lagi yang terdzalimi..
Saat pagi menjelang siang, still at my desk..
dini@mipp.ntt.net.id
From: "Choironi, Umul"
Subject: Ngabuburit - kisah akhlaqi (3)
UJUB
IMAM 'Atha al-Sulami membawa kain tenunannya ke pekan untuk dijual
kepada
seorang penjual kain. Kain itu satu-satunya hasil tenunannya yang
dianggapnya terbaik di antara yang lain, kerana tenunannya telah
dikerjakannya dengan tekun dan berhati-hati, dengan sepenuh daya
kreativitas.
Dia cukup puas hati dengan hasil tenunannya itu.
Penjual kain yang dikunjunginya di pekan itu membolak-balik kainnya
itu.
"Tuan akan jual kain ini? Berapa harganya?", tanya penjual kain itu.
"Sepatutnya harga kain ini lebih mahal. Tapi aku bersyukur, jika
harganya
sama dengan harga kain biasa yang pernah engkau beli." jawab 'Atha
al-Sulami.
Pekedai kain itu menggeleng-geleng dan tersenyum sumbing.
"Tapi kain ini rendah mutunya. Tenunannya tidak rapi, tidak halus,
corak dan warnanya tidak menarik. Ukurannya pun lebih kecil daripada
ukuran
biasa.
Jika tuan tidak percaya ucapan saya, tuan boleh tanya orang lain.
Bawalah
kain ini kepada penjual kain yang lain."
Imam 'Atha al-Sulami merasa sedih dan kecewa. Dia membisu.
"Bagaimana pun, hamba boleh beli kain ini, tapi dengan harga yang murah
sahaja".
Tanpa bertanya tentang harga yang sanggup dibayar oleh penjual itu,
pelan-pelan Imam 'Atha al-Sulami melangkah ke luar kedai. Tiba-tiba
dia
terduduk di warung kaki lima, lalu menangis. Kepalanya yang tertunduk
tersengguk-sengguk digoncang oleh sedu-sedan tangisannya itu.
Melihat keadaan itu, tercetus rasa simpati di hati penjual kain,
lalu dia segera menghampiri Imam 'Atha al-Sulami.
"Sampai begitu sekali kesedihan tuan? Tadi, hamba berkata benar, mutu
kain
tuan itu rendah. Rugi hamba kalau membelinya dengan harga biasa.
Maafkan
hamba".
Imam 'Atha al-Sulami menangis terus, seolah kehadiran penjual itu
tidak
disadarinya. Penjual kain tertunduk resah.
"Baiklah. Berikan kepadaku kain itu. aku beli kain itu dengan harga
biasa. Aku sanggup membelinya semata-mata kerana aku mau menyenangkan
hati tuan. Aku kasihan melihat keadaan tuan terlalu sedih sampai
menangis
begitu rupa. Jika tangisan tuan itu kerana aku, maafkanlah aku..."
"Tidak. Aku sedikit pun tidak merasa kecil hati kepadamu," 'Atha
al-Sulami
berbicara dengan suara serak. "Malah, aku bersyukur, kerana tindakaanmu
tadi
sungguh-sungguh telah menginsafkan aku".
"Jadi, tuan menangis bukan kerana kecewa kerana menawarkan harga kain
itu
dengan yang lebih rendah daripada biasa?"
Imam 'Atha al-Sulami mengangguk dalam tangisannya yang berterusan. .
"Kalau begitu, kenapa tuan menangis?".
"Aku menangis kerana sedih mengingatkan amal ibadatku. Kain hasil
tenunanku
ini kebetulan ada persamaannya dengan hasil amalan ibadatku selama
ini".
"Ajaib. Bertambah ajaib. Bagaimana kain itu ada persamaannya dengan
ibadat
tuan?"
"Begini. Kain ini aku tenun sebaik-baikya. Seberapa mungkin aku
bertekun
mengusahakannya supaya mutunya baik. Dan, sebelum ini aku rasa kain
ini
cukup baik, bahkan lebih baik daripada hasil tenunanku sebelumnya,
tidak
ada cacat-cederanya. Tetapi sekarang barulah aku sedar, apabila dibawa
kepada orang yang pakar dalam hal kain seperti engkau, rupa-rupanya
kain ini
banyak cacat cederanya, rendah mutunya".
Kepala Imam 'Atha al-Sulami tertunduk kembali, menahan sedu
tangisannya.
Ternyata, kesan kesedihannya masih ada dikalbunya. Hal ini kentara
sekali
kepada penjual kain itu.
"Jadi betullah, tuan bersedih dan menangis kerana hamba ...."
"Tidak!". Imam 'Atha al-Sulami cepat memotong cakap penjual kain itu.
"Aku menangis apabila teringat, betapa amal ibadatku dinilai oleh Allah
Taala pada hari Kiamat nanti. Selama ini aku berpuas hati dengan amal
ibadatku, sebagaimana aku berpuas hati dengan hasil tenunanku ini.
Allah
Taala yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, sama ada yang nyata atau
yang
ghaib, yang lahir atau yang batin; sudah pastilah segala 'ujub atau
cacat-cedera amal ibadatku kentara kepada-Nya. Bandingannya, cacat-cela
kain
ini kentara kepadamu yang tahu menilainya"
Dia tertunduk pula. Kesedihan masih tersisa di dalam dadanya.
"Kerana kelalaianku, tidak pernah terfikir di benakku tentang ketidak-
semprnaan amal ibadatku, kecuali setelah engkau menyatakan ketidak-
semprnaan kain ini. Sekarang aku takut amal ibadatku menjadi sia-sia
saja, kerana selama ini rasa ujub, bangga dan rasa puas hati yang telah
bersarang di dalam kalbuku terhadap amal ibadatku. Aku bimbang, amal
ibadatku rendah mutunya, sama dengan kerendahan mutu kain ini. Itulah
yang
menyebabkan aku bersedih dan ...."
Kepalanya tertunduk pula, menahan serangan kesedihan yang kembali
memburaikan tangisannya.