Alangkah Indahnya Islam

Post a comment

Shamir bin Maisakh,
Yahudi yang Tertarik Islam

DI Mesir, Gubernur Amr bin Ash sedang mengadakan berbagai proyek pembangunan. Tersebutlah seorang Yahudi yang bernasib malang. Tanah dan rumahnya terkena proyek pembangunan. Seorang petugas tatakota membicarakan masalah tersebut.
"Shamir bin Maisakh, ketahuilah bahwa tempat tinggalmu terkena proyek pembangunan. Di tempatmu ini cocok sekali dibangun sebuah masjid," kata petugas itu.
"Lalu bagaimana dengan saya, Tuan?"
"Terpaksa kamu harus pergi dari sini mencari tempat lain. Kami akan memberi ganti rugi dua kali lipat harga tanah di sini," bujuk petugas itu.
"Saya tidak mau," jawab Shamir bin Maisakh.
"Tiga kali lipat?"
"Tidak mau."
"Empat kali lipat atau lima kali lipat?" bujuk petugas itu lagi.
"Walaupun sampai tujuh kali lipat atau bahkan sepuluh kali lipat pun saya tetap tidak mau," ujar Shamir bin Maisakh mantap. Petugas itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pergi melaporkan masalah tersebut kepada Gubernur Amr bin Ash. Menurut keputusan Gubernur, terpaksa rumah tersebut harus dibongkar dan pembangunan masjid itu harus tetap dilaksanakan.
Betapa sedihnya hati Shamir bin Maisakh. Uang ganti rugi tidak jadi diterima, sedangkan tempat tinggalnya tetap dibongkar. Dalam kesedihan seperti itu, Shamir bin Maisakh berniat mengadukan masalah tersebut kepada Khalifah Umar bin Khathab. Shamir bin Maisakh pun pergi ke Madinah.
Shamir bin Maisakh belum mengenal wajah Khalifah Umar bin Khathab. Ia hanya tahu nama saja. Ketika sampai di perbatasan kota Madinah dan melihat seorang laki-laki bertubuh tegap sedang berteduh di bawah pohon, segera ia hampiri.
"Permisi Tuan. Saya dari Mesir. Apakah Tuan orang Madinah?" tanya Shamir bin Maisakh.
"Waktu dilahirkan di Makkah, namun sudah lama tinggal di sini," jawab laki-laki bertubuh tegap yang nampaknya keras itu. "Apakah Tuan tahu di mana istana Khalifah Umar bin Khathab?"
"Ya, tahu. Ada apa?"
"Di mana istananya?"
"Di atas lumpur."
"Di atas lumpur?" tanya Shamir bin Maisakh keheranan.
"Tentu Tuan bercanda. Bagaimana pakaian kebesarannya, apakah berpakaian dari sutera atau beludru?" tanya Shamir bin Maisakh lagi.
"Pakaiannya malu dan taqwa."
Orang Yahudi itu semakin tidak mengerti dengan jawaban-jawaban itu. Dalam hatinya berkata, "Apakah yang sedang di hadapinya itu orang gila?"
"Bagaimana pengawal istananya?" tanya Shamir bin Maisakh lagi.
"Janda-janda tua, orang-orang jompo, dan fakir-miskin. Itulah pengawal Umar bin Khathab."
"Apakah kira-kira sekarang dia ada di istananya?"
"Tidak ada. Dia sedang pergi keluar."
"Ke mana, ya?"
"Sedang berhadapan dengan kamu sendiri."
"Hah! Tuankah Khalifah Umar bin Khathab?" tanya Shamir bin Maisakh keheranan dan terkejut.
"Ya, akulah Umar bin Khathab. Ada apa Anda mau menemuiku?"
Orang Yahudi itu segera menceritakan permasalahannya secara jelas.
"Benarkah begitu?" tanya Khalifah Umar bin Khathab.
"Benar Tuan."
"Kalau begitu tolong carikan tulang dan bawa kepadaku!" perintah Khalifah Umar bin Khathab.
"Tulang? Untuk apa tulang? Saya ke sini mau minta keadilan, bukan tulang, Tuan."
"Pokoknya carilah tulang. Nanti engkau akan mengerti," kata Khalifah Umar bin Khathab menegaskan.
Orang Yahudi itu pun segera pergi mencari tulang. Tidak lama kemudian ia telah mendapatkannya dan segera diberikan kepada Khalifah Umar bin Khathab. Kemudian Khalifah Umar bin Khathab menghunuskan pedangnya.
Dengan pedangnya itu Khalifah Umar bin Khathab menggoreskan sebuah garis lurus pada tulang itu. Selanjutnya tulang itu diberikan lagi kepada orang Yahudi tersebut.
"Nah, berikanlah tulang ini kepada Gubernur Amr bin Ash. Sampaikan salamku kepadanya," kata Khalifah Umar bin Khathab.
Dalam keadaan tidak mengerti, Shamir bin Maisakh segera pulang ke Mesir untuk menyerahkan tulang yang telah diberi garis lurus oleh Khalifah Umar bin Khathab. Sesampainya di Mesir, benda itu diberikan kepada Gubernur Amr bin Ash.
Alangkah terkejutnya Gubernur Amr bin Ash ketika menerima tulang tersebut. Wajahnya nampak memerah, dan selanjutnya berubah menjadi pucat pasi. Tangannya gemetar. Saat itu juga Gubernur Amr bin Ash memerintahkan kepada kepala proyek tatakota untuk membatalkan pembangunan masjid di tempat orang Yahudi itu.
"Pembangunan masjid di atas tanah milik Shamir bin Maisakh agar dibatalkan. Rumah itu segera didirikan lagi. Berilah
ganti rugi kepadanya," demikianlah Gubernur Amr bin Ash mengeluarkan keputusannya.
Orang Yahudi itu tambah tidak mengerti. Ia benar-benar bingung. Banyak kejadian yang tidak terjangkau akal pikirannya.
"Sebentar Tuan Gubernur. Bolehkah saya mengetahui sesuatu? Mengapa Tuan takut melihat tulang yang digores itu?" tanya Shamir bin Maisakh penasaran.
"Ketahuilah, bahwasanya aku telah mendapat peringatan keras dari Khalifah Umar bin Khathab atas tindakanku terhadapmu. Ia seolah-olah berkata, 'Hai Amr bin Ash, berbuatlah jujur dan adil seperti lurusnya garis ini. Bila bengkok, maka pedangku akan meluruskan dirimu sampai akhirnya engkau seperti tulang yang tidak berharga ini.'
Demikianlah sebenarnya," kata Gubernur Amr bin Ash menjelaskan.
"Oh, begitu?" kata Shamir bin Maisakh menanggapi penjelesan Gubernur Amr bin Ash.
"Kalau begitu Islam benar-benar adil," lanjut Shamir bin Maisakh.
"Islam sangat adil," jawab Gubernur Amr bin Ash.
"Kalau begitu, biarlah tanah dan rumahku akan kujariahkan untuk pembangunan masjid. Saksikanlah, bahwa mulai saat ini aku akan berikrar masuk Islam," ucap Shamir bin Maisakh mantap dan melantunkan dua kalimah syahadat yang dituntunkan kepadanya.

=====

 

Mencapai Derajat Wali

Post a comment

Oleh Drs. H. ENTANG MUCHTAR Z.A.
Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1103/10/0109.htm

CERITA tentang "wali" sepertinya sarat dengan kesaktian-kesaktian dan pertapaan. Seorang "wali" dipercaya bisa menghilang, berjalan di atas air, bahkan bisa mengubah suatu benda menjadi bentuk lain. Seperti buah aren bisa diubah menjadi emas. Sementara itu, pertapaan dan bertapa dipercaya sebagai cara dan tempat untuk mendapatkan "kesaktian" itu.

Dipilihnya tempat-tempat yang sunyi, jauh dari keramaian orang banyak, seperti tempat kuburan, di bawah pohon yang tinggi dan rindang, bahkan di atas batu yang besar. Di tempat-tempat seperti itulah ia menyendiri dengan konsentrasi yang tinggi untuk tidak dapat digoda oleh godaan-godaan, baik lahir maupun batin.

Bahkan, ada cerita lain tentang orang yang dipercayai sebagai "wali", yaitu bahwa ia setiap salat Jumat tidak hadir di masjid jami yang biasa dipakai untuk salat Jumat. Ia tetap tinggal di kamar rumahnya. Ketika ditanyakan, kenapa ia tidak salat Jumat? Maka, jawabannya, secara lahir memang ia kelihatan tidak hadir di masjid, tetapi secara batin ia melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram Mekah. Demikianlah. Memang cukup "sakti" wali itu.

Cerita tentang "kesaktian" wali seperti tadi memang sudah telanjur dipercayai sebagian besar umat Islam di negeri ini. Dengan demikian, untuk mencapai derajat "wali" sungguh sangat berat. Tidak sembarang orang bisa menjadi "wali". Oleh karena itu, jumlah "wali" di Indonesia tidak berubah, tetap saja sanga. Padahal, jika memperhatikan firman Allah dalam Alquran, rasanya untuk mencapai derajat "wali" tidaklah seberat itu.

Seperti dalam surat Yunus ayat 62-64, Allah berfirman yang artinya, "Ingatlah! Bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu adalah mereka yang tidak punya rasa takut dan tidak juga bersedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka sudah mendapatkan berita gembira baik di dunia maupun untuk nanti di akhirat, sama sekali tidak akan ada pergantian terhadap keputusan Allah dan itulah keberuntungan yang besar."

Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, Allah telah memberikan petunjuk praktis yang jelas dan bisa dikerjakan oleh setiap mukmin yang mempunyai keinginan untuk menjadi "wali Allah", tanpa kecuali. Dalam hadis qudsi itu Allah berfirman, "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Aku akan mengumumkan perang dengan orang itu. Tidakkah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan amal-amal yang Aku senangi, di antara amal-amal yang Aku fardukan dan tidaklah juga hamba-Ku itu terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengamalkan amalan-amalan tambahan, yaitu nafilah (sunat) sehingga Aku mencintainya dan apabila Aku sudah mencintainya, Akulah yang memelihara pendengarannya ketika ia mendengar, Akulah yang memelihara penglihatannya ketika ia melihat, Akulah yang memelihara tangannya ketika ia berbuat, dan Akulah yang memelihara kakinya ketika ia berjalan.
Apabila ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya dan apabila ia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya."

Petunjuk Allah SWT. tentang tahapan-tahapan amal yang mesti dikerjakan oleh semua hamba-Nya yang ingin sampai ke derajat "wali" sangatlah jelas. Bisa dikerjakan oleh semua orang yang beriman. Tahapan amal yang pertama, mengerjakan amal-amal yang difardukan oleh Allah sesempurna mungkin. Salat yang lima kali, saum di bulan Ramadan, zakat, dan haji. Semua yang fardu itu dikerjakan secara tertib, tepat waktu, tepat kaifiyat (cara) dan kekhusyukannya.

Kemudian, jika yang fardu sudah dikerjakan dengan baik, ditambah dengan mengerjakan amal-amal yang nafilah (sunat) secara kontinu. Karena memang setiap amal yang difardukan selalu disertai amal yang nafilah (sunat). Ada salat sunat, saum (puasa) sunat, sedekah, sebagai sunat dari zakat dan sunat haji, yaitu umrah. Jika semua amal-amal yang sunat itu sudah dikerjakan secara mudawamah (kontinu), sebagai tambahan bagi yang fardu, amal-amal itulah yang bisa mengantarkan ke derajat "wali Allah".

Jika sudah menjadi "wali", Allah akan membelanya dari segala gangguan musuh-musuhnya yang mengancam padanya.
Jika sudah ada pembelaan dari Allah, "kesaktian" akan bisa dimiliki. Walaupun, "kesaktian"-nya itu tidak bisa menjadikan ia bisa menghilang, berjalan di atas air, dan tidak juga bisa mengubah batu menjadi emas. Selain itu, apabila ia berdoa, doanya akan dijawab dan apabila ia memohon perlindungan, Allah akan memberi perlindungan. Jika sudah mendapat pembelaan dari Allah, doa sudah dijawab, dan mendapat perlindungan dari Allah, pantas bagi seorang "wali" Allah tidak akan punya rasa takut dan tidak merasa sedih. Tidak takut untuk mengatakan yang benar, sekalipun di hadapan penguasa yang zalim dan tidak juga bersedih untuk meratapi kegagalan dalam perjuangan.

Semua fardu di bulan Ramadan, kemudian ditambah dengan saum-saum sunat secara kontinu, itulah salah satu amal
yang bisa mengantarkan ke derajat "wali". Di saat melaksanakan saum, demi kesempurnaan dan diterimanya oleh Allah sebagai suatu pengabdian kepada-Nya, yang dipelihara tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mampu memelihara pendengaran penglihatan, tangan, dan kaki dari segala pekerjaan yang tidak baik. Demikian juga seorang hamba, apabila sudah sampai ke derajat "wali", pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki sudah dipelihara oleh Allah dalam penggunaannya. Dengan demikian, ia akan mendapatkan dan merasakan adanya "kesaktian".

Kisah tentang sahabat Nabi dalam sebuah peperangan yang melemparkan batu berikil ke arah musuhnya yang kafir. Ternyata hanya dengan lemparan batu kecil, orang kafir itu bisa mati dan terkalahkan. Sahabat sendiri kaget dan bertanya-tanya, mengapa lemparan batu kecil itu bisa menjadi sebab kematian si kafir? Kemudian, Allah menjelaskan dengan firman-Nya, "Bukanlah kamu yang menembak, di saat kamu menembak, tetapi Allah-lah yang menembak." Itulah "kesaktian" yang diberikah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang telah menjadi wali-Nya. Betul-betul "kesaktian" dari Allah. Bukan dari setan. ***

Penulis, Ketua Bidang Jam'iyyah PP Persis.

=====

 

Teruslah Berjuang, Saudaraku Muslimah

Post a comment

Hari ini aku baca berita tentang,
Saudaraku muslimah di Perancis, Jerman, Bavaria,
Yang atas nama sekularisme,
tak boleh lagi menutup rambut mereka di sekolah.
Dengan selembar kain bukti syahadat di hati mereka.

Aku cuma bisa menangis mendoakan mereka...
Di ujung sajadah di ujung malam...

Terlintas kembali di benakku...
16 tahun yang lalu ketika aku harus berlari,
menyelamatkan hijabku di sekolah.
15 tahun yang lalu ketika aku dan saudaraku,
dituding menyebar racun,
14 tahun yang lalu ketika aku harus,
mengikat erat jilbabku bukan takut tertiup angin,
tapi banyak orang siap menjambretnya dari atas motor mereka.

Lalu teringat aku...
13 tahun yang lalu ketika aku dan ribuan saudaraku muslimah.
bersujud syukur di halaman mesjid Al Azhar.
ketika saat yang dinanti sekian lama itu tiba,
adik-adikku bebas untuk menutup aurat mereka di sekolah.
kalimat Allah jua yang tinggi.
karena menutup aurat bagi kami adalah pembebasan sejati.
bukan ketertindasan dan keterpaksaan.

Kini di tanah ini keputusan manusia tlah jatuh.
untuk menutup pintu kebebasan itu.
Namun keputusan Allah tak mengenal pintu.
Tak terikat waktu.
Teruslah berjuang, saudariku muslimah.

from : Dian

* * *
Publikasi: Eramuslim,22/12/2003 09:51 WIB

 

Ungkapan Cinta

Post a comment

Manusia memang makhluk rumit. Dan suka aneh sendiri.
Hal-hal yang pingin kita omongin, atau yang harus kita bilang, justru
malah tak pernah kita ungkap. Parahnya lagi, kita terbiasa pake
simbol-simbol atau kata-kata lain buat menunjukkan arti sebenarnya.
Walhasil, seringkali maksud kita itu jadi tak terkomunikasikan dan
membuat orang lain merasa bete,nggak disayang, nggak dihargai.
Iya sih, ada saat-saat kita merasa nggak nyaman
mengekspresikan cinta yang kita rasa.
Karena takut mempermalukan orang lain,
atau diri kita sendiri, kita ragu buat bilang, "I love you".
Jadinya, kita menyampaikan perasaan itu lewat kata-kata yang lain;
"jaga diri baik-baik", "belajar yang bener","hati-hati di jalan",
"jangan ngebut", "jangan lupa makan". Tapi,sebenarnya, itu cuma opsi-opsi
lain dari perkataan yang sesungguhnya; "saya sayang kamu", "saya
peduli sama kamu", "kamu sangat berarti buat saya", "saya nggak mau
kamu terluka".

So, nggak ada salahnya kita coba MENDENGARKAN CINTA lewat
kalimat-kalimat yang dikatakan orang lain. Ungkapan
eksplisit itu penting,
tapi bagaimana kita mengungkapkannya bisa jadi
jauh lebih penting. Setiap pelukan bermakna cinta
meski kata-kata yang keluar
sangat berbeda. Setiap perhatian yang diberikan orang lain
menyimpan cinta walau bentuknya kaku, atau mungkin kasar. Yang
pasti, kita harus mencari dan mendengar cinta yang ada di baliknya.

Seorang ibu bisa ngomelin anaknya karena nilai rapot atau
kamar yang berantakan. Si anak mungkin hanya mendengar omelannya.
Tapi kalo dia bener-bener MENDENGAR,
dia bakal mendapatkan cinta di sana. Kepedulian
dan cinta ibunya muncul dalam bentuk omelan. Tapi gimana
pun juga, itu adalah cinta.

Seorang gadis pulang larut malam, dan akhirnya dapat
kuliah gratis dari bokapnya.
Gadis itu cuma menangkap kemarahan sang bokap.
Tapi kalo dia mencoba untuk MENDENGARKAN CINTA, dia bakal menemukannya.
"Kamu gimana sih, Papa jadi khawatir sama kamu," kata bokapnya. Tau
nggak, itu sama aja dengan "Papa sayang dan peduli sama kamu. Kamu sangat
berarti buat Papa" yang sayangnya, nggak tersampaikan dengan lisan.

Kita mengungkapkan cinta dalam banyak cara--hadiah ulang
tahun, pesan-pesan kecil, dengan senyuman,dengan air mata. Cinta
tak hanya ada dalam kata-kata, tapi juga dalam diam. Dan seringkali
kita menunjukkan cinta dengan memaafkan orang yang nggak mau
mendengar cinta yang kita sampaikan.

Masalah dalam "mendengarkan cinta" adalah kesulitan dan
keterbatasan kita untuk mengerti bahasa cinta yang dipakai orang lain.
Yang kerap terjadi, kita jarang mendengarkan orang lain. Kita
mendengar kata-kata,
tapi kita tidak mempertimbangkan ekspresi atau
tindakan-tindakan yang
mengiringi kata-kata itu. Sering pula kita cuma bisa
mendengar hal-hal negatif, penolakan, kesalahpahaman dan mengabaikan cinta
yang menjadi dasarnya.

Coba dengarkan, cinta-cinta yang ada di sekitar kita. Kalau
kita bener-bener berusaha mendengarkan, kita bakal menemukan bahwa
kita sebenarnya memang dicintai. Mendengarkan cinta bisa
membuat kita sadar bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu indah.

Cinta adalah anugerah.
Membuat kita tertawa.
Membuat kita bernyanyi.
Membuat kita sedih.
Membuat kita menangis.
Membuat kita bertanya "kenapa?"
Membuat kita menerima.
Membuat kita memberi.
Dan yang paling penting, membuat kita hidup.

Bukanlah kehadiran atau ketidakhadiran yang penting;
kita tak perlu merasa kesepian meski kita sedang sendiri.
Sendiri itu perlu, lho.
Dan itu jangan sampai membuat kita jadi kesepian.
Yang jadi masalah bukan berada bersama seseorang, tetapi berada untuk seseorang.

Jangan pernah ragu nyatakan cinta. Jujurlah dengan apa
yang kita rasakan dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri.
Ambil kesempatan untuk mengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia
buat kita. Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.

Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga,
karena mereka telah
berjasa membangun diri kita yang sekarang. Cinta memang
ada untuk ditebarkan. Dan saat cinta yang kita berikan diterima,
atau dibalas, itulah saat hidup menjadi penuh makna

 

Aku Tidak Lebih Dulu ke Surga

Post a comment

Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada
disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih
bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia
dikumpulkan.

Mungkinkah, ah ... aku tidak mau mengira- ngira.
Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah
kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku.

"Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku.

"Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa
lemas, mataku
tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.

Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan
dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari
penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima
keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia.

Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan
dinikmati atau
adzab neraka yang siap menanti.

Aku semakin takut. Namun ada debar dala dadaku mengingat amal-amal baikku
didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau
jangan-jangan ...
Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai
hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi
yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia
yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah.

Lagi-lagi dadaku berdebar,

ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya
infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal
sebagai juru dakwah. "Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga,
apalagi aku," pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa
namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah- ibadah dan
perbuatan-perbuatan baikku.

Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW
sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui
Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad
masuk.

Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun.

Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita
pertama
yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.

Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir
dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama
dalam Islam.

Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul
itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya.

Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni
surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor
yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan
kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah.

Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai
perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat
begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera
menikmati kesegaran telaga kautsar.

Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku.

Sepertinya aku kenal mereka.

Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak
pernah kuperhatikan.

Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara

sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

"Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku," aku terperangah
melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD
itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil
dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya.

Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan
adik-adiknya di kampung tidak kelaparan.

Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang
mie itu lebih baik dimata Allah. Ia
bekerja untuk kebahagiaan orang lain." Sementara aku, semua hasil
keringatku semata untuk keperluanku.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang
kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah
dan selalu mendapatkan kata "maaf" dari bibirku dibalik
pagar tinggi rumahku.

Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab
setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit
hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak."

Masya Allah ... murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku
ke surga.

Setelah itu, berbondong-bondong jama'ah masjid- masjid tempat biasa
aku berceramah. "Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan.

Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan.

Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada
berbicara,"
jelasnya lagi.

Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring
dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang.

Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera
bertemu Allah dan berkata, "Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku
bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke
surgaMu."

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku
ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara.
"Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk
kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk
memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan
penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain,
tidak untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian,
jama'ah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak
lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah.

Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas
dakwah yang
kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik
lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih
ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada
mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.
Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan,
astaghfirullah..., ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam
ini.

 

RENCANA ALLAH PASTI INDAH

Post a comment

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelaikain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawahadalah benang ruwet.Ibu dengan tersenyum
memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku,lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, " Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya,
karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.Kemudian ibu berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau,tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, "Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab : " Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan
pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.
"Subhanallah... Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini.Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu. Amin.

subhanallah, tulisan ini benar-benar membuka pikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang maha pengatur segala
sesuatu di alam ini. Tulisan ini mengingatkan saya bahwa kendati pun manusia punya keinginan, tetapi Allah
mempunyai keputusan yang tak mungkin dapat kita ubah. So, mari kita senantiasa bertawakkal kepada Nya

Wassalamualaikum wr wb.

 

Belajar Mencintai Dari Cicak

Post a comment

Kiriman: "Harsono"(Thanks 2U)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-A True Story From Japan!!!! -
Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu! Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya....AHHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan..... Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat. Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi.
JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!

Bagikan cerita ini kepada semua orang yang telah menyentuh hidup anda dan membuat anda bertumbuh, mengerti, dan memahami lebih dalam lagi tentang hidup. Bagikan cerita ini untuk semua orang.

http://soulful.untukkita.com

 

Doa wanita shalihah

Post a comment

Tuhanku,
Aku berdoa untuk seorang pria, yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya
setelah Engkau.
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.

Wajah ganteng dan daya tarik fisik tidaklah penting.
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh
mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menjadi
seperti Engkau.

Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga
hidupnya tidaklah sia-sia.
Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas.
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati
ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan
situasi.
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika
berada disebelahnya.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan aku juga meminta :
Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat pria itu bangga.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU,
sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU,
bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
Berikanlah RohMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan
dari luar diriku.
Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat
banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan
pemberi semangat,
sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari.
Berikanlah aku bibirMU dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu,
aku berharap kami berdua dapat mengatakaan
"betapa besarnya Tuhan tu karena Engkau telah memberikan kepadaku
seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang
tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang
Kautentukan.