Insya Allah bermanfaat....
Satu detikpun kita gak akan tau kalau kematian akan menjemput...
Krn Jodoh, Rejeki dan Mati itu Rahasia Allah...
Subhanallah....
Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya. sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.
Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita???
"KISAH YANG MUNGKIN NYATA"
Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba dirumah langsung duduk bersantai sambil melepas penat. sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan langsung sholat .
sementara anak2 & istri sedang berkumpul diruang tengah.
Dalam kelelahan tadi, saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat dimuka saya. selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri didepanku.
Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba2 itu.
Sebelum sempat bertanya.....siapa dia...tiba2 saya merasa dada saya sesak... sulit untuk bernafas.... namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara..sebisanya......
Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku......terus berjalan......kekerongkonganku....
sakittttttttt........sakit........rasanya.keluar airmataku menahan rasa sakitnya,.... oh tuhan ada apa dengan diriku..... dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku...kkhh.........khhhh..... kerongkonganku
berbunyi. seolah tak mampu menahan benda tadi... badanku gemetar... peluh keringat mengucur deras....mataku terbelalak..... air mataku seolah tak berhenti....tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku.
Aku melihat benda tadi dibawa oleh orang misterius itu...pergi...berlalu begitu saja....hilang dari pandangan.
Namun setelah itu.........aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat, segar, cerah... tidak seperti biasanya.
Aku herann... istri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah,,,, tiba2 terkejut berhamburan kearahku..
Disitu aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat dibawah sofa yang kududuki tadi . badannya dingin kulitnya membiru. siapa dia????????........ mengapa anak2 & istriku memeluknya sambil menangis... mereka menjerit...histeris ...terlebih istriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi... siapa dia.............????????
Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan..... dia........dia.......dia mirip dengan aku....ada apa ini Tuhan...????????
Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu.....
Aku mencoba merangkul anak2 ku tapi tak bisa ...Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku coba jelaskan kalau aku ada disini..
Aku mulai berteriak.....tapi mereka seolah tak mendengarkan
aku.........seolah mereka tak melihatku...
Dan mereka terus-menerus menangis....aku sadar..aku sadar...bahwa orang misterius tadi telah membawa roh ku.. Aku telah mati...aku telah mati.
Aku telah meninggalkan mereka ..tak kuasa aku menangis..........berteriak......aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku.
Aku sangat sedih.. selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang bisa kulakukan untuk membimbing mereka. Tapi waktuku telah habis.......masaku telah terlewati........aku sudah tutup usia ....pada saat aku terduduk disofa setelah lelah seharian bekerja.
Sungguh bila aku tau aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja, beribadah, untuk keluarga dll.
Aku menyesal aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum sholat.
Ohh Tuhan, Jika kau ijinkan keadaanku masih hidup masih bisa membaca E-mail ini. sungguh aku amat sangat bahagia.
Karena aku masih mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berjanji bila maut menjemputku kelak. aku telah berada pada keadaan yang siap.
Da'wah bisa dengan menyebarkan E-mail ini. Berpahalah kamu.
Ada hal2 yang tdk ingin kita lepaskan orang2 yang tdk ingin kita tinggalkan tapi ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita merasa dia itu ganteng, cantik, teristimewa dibandingkan dgn yang lain.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemukan yang seperti dia.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat2 indah senantiasa terbayang di benak kita.
* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata "Saya sangat mencintainya".
Ingatlah !! Melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru...
* Kita harus melepaskan seseorang karena kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.
* Kita harus melepaskan seseorang karena kita menyadari yang ganteng, yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaik buat kita.
* Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.
* Kita harus melepaskan seseorang ketika saat2 indah hanyalah tinggal masa lalu.
* Kita harus melepaskan seseorang karena kepala kita berkata "tidak ada lagi yang dapat dipertahankan".
* Kegagalan tidak berarti Anda tidak mencapai apa2... namun Anda telah memahami sesuatu...!
Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan...!!
--
Oleh Prie GS
Beginilah cara pendidikan kita menghargai kejujuran. Keponakan saya,
kelas 3 SD, belum lama ini, menjadi bahan tertawaan keluarga karena
gayanya menjawab soal tes di sekolahnya. Soal itu kurang lebih
berbunyi berbunyi: Jika temanmu lupa membawa pensil ke sekolah, apa
yang kamu lakukan? a. selalu meminjami, b. jarang, c. Tidak pernah.
Dari tiga jawaban itu, nilai tertinggi dipegang oleh nomor a, kedua b
dan nilai terendah adalah jawaban c. Maksud soal ini jelas, bahwa
nilai tertinggi diberikan pada anak yang berhati mulia, anak yang
selalu menolong teman yang tengah susah. Persoalannya, pembuat soal
ini tidak pernah menghitung, bahwa jenis kemuliaan semacam itu belum
menjadi lahan urusan anak-anak seumur keponakan saya. Kedermawanan
semacam itu adalah sebuah bangunan pikiran yang disusun para orang
tua.
Kedermawanan semacam itu, menurut saya, malah cuma layak diperagakan
oleh para sufi dan orang-orang suci. Jadi hebat benar sekolah kita
ini yang menuntut anak kelas 3 SD sudah harus berperilaku seperti
orang suci, sementara yang tua-tua, malah yang sudah jadi pejabat pun
masih pada sibuk korupsi.
Apa yang kemudian dilakukan keponakan saya? Alih-alih mematuhi
perintah soal tes, anak ini tetap kukuh di jalurnya sendiri. Ia
dengan segenap kebulatan hati memilih jawaban c dengan risiko cuma
mendapat nilai terendah. Bukan cuma nilai rendah yang ia dapatkan. Di
sekolah ia juga menjadi bahan gurauan guru-gurunya, di rumah masih
diberi bonus ledekan keluarganya.
Anak ini tampak marah dan tidak bisa mengerti kenapa orang-orang tua
itu tertawa atas jawabannya. Padahal ia telah berkata jujur. Selama
ia bersekolah, belum pernah menjumpai seorang teman pun yang lupa
membawa pensil. Kalau pun mungkin ada, teman itu tidak perah meminjam
kepadanya. Atau barangkali pembuat soal itu lupa mencermati
perkembangan, betapa persoalan anak ketinggalan pensil, penggaris,
penghapus dan semacamnya itu, adalah soal-soal yang tidak lagi aktual
bagi anak-anak.
Karena sepanjang saya tahu, rata-rata anak sekolah di kota, jauh
lebih banyak mengalami boros peralatan katimbang miskin peralatan.
Anak-anak itu sering terlalu punya banyak buku, banyak pensil, dan
banyak mainan dibanding dengan kebutuhan yahg sebenarnya. Jadi soal
ketertingalan pensil adalah hal-hal yang butuh dipertimbangkan lagi,
adakah ia perlu dibuat pertanyaan tes karena nyaris tidak pernah
menjadi persoalan serius bagi anak modern.
Kasus keponakan saya itu adalah butki. Bahwa selama tiga tahun ia
bersekolah di SD itu, belum pernah sekalipun ia lupa membawa pensil
atau ada anak lain yang lupa kemudian meminjam kepadanya. Hal inilah
yang membuat ia tak risau memilih jawaban nomor c meskipun dengan
risiko nilainya jeblok. Menjawab sesuai dengan kenyataan yang dia
alami, jauh lebih mengoda hatinya. Kejujuran bagi anak-anak adalah
watak utamanya.
Tapi jika kejujuran semacam itu tidak pernah dihargai di sekolah,
maka pendidikan kita jugalah yang entah sengaja atau tidak, telah
mengajari anak untuk berbohong dan bersikap hipokrit. Anak dipaksa
untuk menjawab dengan jawaban yang menggambarkan kemuliaan hati,
meskipun si anak ini sejatinya tidak pernah melakukan perbuatan itu.
Kalau pun ia memilih jawaban nomor a, adalah semata-mata karena
jawaban itulah yang memiliki skor tertinggi. Jadi jawaban itu jelas
bukan bukti bukti perbuatan si anak, apalagi watak anak.
Artinya, ada jenis pertanyaan yang menggiring anak untuk lebih suka
berbohong demi meraih nilai tertinggi katimbang berbuat jujur karena
ancaman kemerosotan nilai. Jadi, sejak di sekolah bahkan kejujuran
dihargai begitu rendah. Barangkali karena inilah, kebohongan menjadi
begitu subur di Indonesia. Lebih baik menyenangngkan orang dengan
cara menipu katimbang berkata jujur tapi tak enak hati. Maka tipuan
sungguh soal yang dipentingkan di negeri ini. Prie GS
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/priegs/priegs137.htm
Lucu ya,
uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal mesjid,
tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket...
Lucu ya,
45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir,
tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan liga Italy...
Lucu ya,
betapa lamanya 2 jam berada di Masjid,
tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop...
Lucu ya,
susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat,
tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman...
Lucu ya,
betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita,
tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya...
Lucu ya,
susah banget baca Al-Quran 1 juz saja,
tapi novel best-seller 100 halamanpun habis dilalap...
Lucu ya,
orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser,
tapi berebut cari shaf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar...
Lucu ya,
kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya agar bisa disiapkan di agenda kita,
tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah seketika...
Lucu ya,
susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah,
tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip...
Lucu ya,
kita begitu percaya pada yang dikatakan koran,
tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al Quran...
Lucu ya,
semua orang pinginnya masuk surga
tanpa harus beriman, berpikir, berbicara ataupun melakukan apa-apa...
Lucu ya,
Kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email,
tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali...
LUCU YA ?!!
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu'min bahwa sesungguhnya bagi mereka
karunia yang besar dari Allah." (QS. 33:47)
Kita terkadang terlalu yakin dengan pengetahuan diri. Kita merasa tahu segalanya sehingga seolah-olah memiliki otoritas untuk membuat kesimpulan mengenai sesuatu hal. Atau kalau menyangkut kepribadian orang lain, kita sering merasa tidak perlu informasi lebih lanjut karena kita merasa cukup pengetahuan mengenai jati diri orang itu sebenarnya.
Kesalahan terbesar seseorang adalah ketika ia menganggap dirinya telah cukup pengetahuan sehingga ia tidak memiliki itikad sedikitpun untuk melakukan cek ricek, tabayyun, konfirmasi balik. Tentang suatu kejadian, ia langsung menyimpulkan ini itu. Tentang diri seseorang, ia langsung menyimpulkan ini itu, menilai begini itu. Dengan pengetahuan sedikitnya, ia merasa sudah banyak pengetahuan. Dengan interaksinya dengan orang lain yang sebentar, ia merasa sudah berhak membuat kesimpulan mengenai diri seseorang itu padahal boleh jadi apa yang disimpulkannya itu hanya akan membuahkan fitnah dan kebohongan, jauh dari fakta sebenarnya. Keterbatasan yang dimilikinya tiada pernah disadari. Ia terjebak dalam ujub diri, merasa punya kemampuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu hal atau
orang lain tanpa diiringi dengan sikap kehati-hatian. Maka ia pun mudah berkomentar tanpa dipikir lebih dalam lagi. Ia mudah menilai sesuatu tanpa mencari dulu fakta yang benar.
Yang lebih fatal lagi adalah ketika kecerobohan sikap ini disebarkan ke orang lain. Kalau menyangkut diri seseorang, maka betapa ia akan menumbuhkan sikap kebencian dari orang yang dirugikannya atas pemberitaan yang tidak benar. Prasangka dikira kebenaran. Prasangka melahirkan kebohongan. Prasangka yang tidak disertai tabayun akan melahirkan
kerenggangan hubungan sesama.
Kita berlindung dari Allah dari sifat sombong, ujub diri, dengki, dan fitnah. Kita ini makhluk yang sangat terbatas. Terbatas ilmunya. Terbatas pengetahuannya. Bila kita sadar bahwa kita terbatas, maka kita akan menjadi manusia yang sangat hati-hati. Hati-hati dalam menyikapi sesauti. Hati-hati dalam menilai sesuatu. Hati-hati dalam membuat kesimpulan
terhadap suatu kejadian. Hati-hati meski sekedar dalam hati.
~ Quu Anfusikum wa ahlikum naara
Agar Dia Selalu CintaPublikasi: 05/01/2004 10:14 WIB
eramuslim - “Sayang, I love you!” Hari ini entah sudah untuk yang keberapa kalinya suamiku membisikan kata itu dengan lembut tidak saja langsung bibirnya menempel di telingaku, tetapi juga melalui SMS ketika dia sudah di kantor. Biasanya akupun langsung membalasnya, I love you too, mas. Terima kasih telah menjadi suamiku.”
Aku menyadari, aku memiliki bebrapa kelebihan, tetapi sesungguhnya kekuranganku jauh melebih kelebihan yang aku punya. Aku bukan perempuan yang cantik jelita seperti ratu balqis, bukan pula wanita kaya raya seperti ummahatul mu’minin Khadijah. Walaupun tidak buta, tetapi pemahamanku terhadap Islampun masih perlu perbaikan.Tak banyak yang istimewa yang aku punya, makanya aku sangat bersyukur sekali Allah menghadirkan seseorang yang Allah halalkan tidak saja hatinya tetapi juga fisiknya padaku. Walaupun aku hanyalah perempuan biasa, Allah memberiku seorang laki-laki yang sholeh, baik, rendah hati dan amat sangat sayang padaku.
Ibuku pernah berpesan, ada empat perkara yang harus kita perhatikan agar tercipta syurga dunia dalam rumah tangga. Sebagai seorang istri kita memang dituntut untuk memaksimalkan kemamapuan agar indah dipandang mata, sejuk dilihat, tenang ditinggal, membangkitkan gairah, dan menumbuhkan ketaatan suami kepada Allah. Disamping menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak kita.
Pertama, mampu memberikan kepuasan di tempat tidur. Tempat tidur adalah ruang yang paling privacy antara kita dan suami. Disanalah biasanya suami mengurai keletihan setelah bekerja seharian. Tempat tidur juga merupakan tempat dimana biasanya suami istri menunaikan hajat seksualnya. Untuk itu istri di tuntut untuk menata tempat tidur dengan baik, bersih dan harum. Istri perlu memahami kebutuhan seksual suami, memenuhi ajakan bersetubuh dengan segera, memberikan kepuasan maksimal dalam bersetubuh, jika perlu tidak ada salahnya istri menawarkan diri.
Kedua, menciptakan keindahan di dalam rumah, menatanya dengan penuh artistik, serta menjaga harta yang ada di dalamnya. Rumah yang besar belum tentu menciptakan ketenangan dan kedamaian. Perabotan yang banyak lagi mahal tidak juga bisa membuktikan penghuninya adalah pasangan yang berbahagia. Keindahan di sini adalah keindahan yang terpancar dari tangan lembut dan keikhlasan penatanya, yaitu istri yang sholehah, qonaah, tawadhu, dan rendah hati.
Ketiga, mendidik dan menjaga anak-anak. Anak-anak adalah amanah, anak-anak adalah investasi, anak-anak merupakan hiburan bagi kita. Anak-anak yang bersih, sehat, cerdas adalah dambaan orang tuanya. Menjadikan anak-anak kita sholeh, cerdas, sehat dan bersih membuktikan keberhasilan kita mendidik mereka. Suami akan bekerja lebih giat untuk mencari nafkah jika melihat anak-anak dalam kondisi seperti ini.
Keempat, saling memaafkan. Suami istri berasal dari dua keluarga yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, adat-istiadat yang berbeda, sifat yang berbeda. Keduanya bukanlah makhluk yang sempurna yang tak pernah salah. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan. Meminta maaf terlebih dahulu jika memiliki salah dan segera memaafkan suami serta tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang pernah ada akan menautkan lagi kemesraan kita berdua.
Seorang suami tidak akan memikirkan perempuan lain jika istri mampu menampilkan semua ini dihadapanya. Memberikan kebahagiaan lahir batin, menciptakan suasana segar, serta istri yang menentramkan jiwa. Tak akan pula ada percekcokan, sakit hati atau penyesalan telah mengikat janji berdua dihadapan Allah aza wajalla. Yang ada adalah ungapan sayang, kata-kata mesra, cinta yang selalu berbunga, mudah-mudahan berkah Allah selalu melingkupinya.
yesi elsandra
el-sandra@lycos.com
(For my husband, I will always love you)
Posted by: admin on Saturday, December 27, 2003 - 12:00 AM
Oleh Ustadz Anis Matta
Doa adalah kata kata yang baik. Dan ketika kita mengucapkanya,
sesungguhnya kita telah melepaskannya dari mulut kita, agar ia
berjalan menuju langit. Jika kata itu memiliki wacana penyangga yang
kuat, ia akan segera melampaui cakrawala, menembus angkasa dan
mencapai langit.
Dan wacana penyangga itu adalah amal shaleh. Dengarlah firman Allah
swt,
"Kepada-Nyalah kata yang baik itu menaik dan amal shaleh-lah yang
akan (terus) mengangkatnya."
(QS. Fathir : 10)
Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan kita beramal shaleh
sebelum berdoa. Misalnya bersedekah dan melakukan kebaikan-kebaikan
lainnya.
Sujud Sang Jiwa
Kata dalam doa adalah untaian surat dari sang jiwa kepada Tuhannya.
Maka jika engkau ingin surat itu sampai kepada-Nya, tulislah ia saat
jiwamu benar-benar sedang bersujud pada-Nya.
"Ya Allah, jika pasukan ini binasa,
tak kan pernah ada lagi di bumi ini
yang akan menyembah-Mu, selamanya"
Rasulullah saw terus melantunkan doa itu, sampai selendangnya
terjatuh, sampai Abu Bakar ra datang meng-hampirinya dan
mengatakan, "Cukuplah, Ya Rasulullah, Allah pasti akan menolongmu."
Tidakkah engkau lihat bagaimana Rasul yang mulia itu merengek-rengek
di depan Tuhannya, Tuhan yang mengutusnya menyampaikan risalah ini
dan berjanji akan menolongnya ??? Bukankah yang ia ucapkan itu telah
melampaui batas permohonan menjadi sebuah tuntutan ??? Siapakah yang
dapat menjamin bahwa tak kan ada lagi yang menyembah Allah jika
pasukan itu binasa ???
Apakah Allah tidak sanggup menciptakan makhluk lain yang akan
menyembah-Nya ?? Tidak !!!! Tidak !!!
Tapi begitulah kejujuran dalam berharap melahirkan kalimat yang kuat,
penuh keyakinan, yang hampir hampir tak dapat di bedakan dari
tuntutan.
Maka dengarlah jawaban bagi jiwa yang bersujud itu. Dan kemudian
Allah swt mengabulkan doanya dengan mengutus Jibril untuk mengatakan
kepadanya:
"Ambillah segenggam tanah, lalu taburkanlah ke wajah mereka." Lalu
beliaupun melakukannya, dan tak seorangpun dari pasukan musyrik
melainkan tanah itu pasti mengenai matanya, lalu lubang hidungnya dan
mulutnya dari gengggaman tanah itu, maka mereka pun lari tunggang
langgang. "
(HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmadi)
Dan Raga pun Menyertainya
Apa yang dilakukan oleh sang jiwa saat ia bersujud, haruslah terlihat
pula dalam wacana raga kita. Demikianlah Rasulullah saw menganjurkan
kita agar mengekspresikan sujud sang jiwa itu dalam gerak raga kita.
* Maka ia menganjurkan kita bersuci sebelum berdoa
* Ia juga menganjurkan kita menghadap ke kiblat saat berdoa
* Akhirnya, ia juga menganjurkan mengangkat kedua tangan kita saat
berdoa
Sebab jiwa yang bersujud itu haruslah suci, maka raga yang
menyertainya sebaiknya juga suci. Sebab walaupun Allah swt ada di
semua penjuru alam, namun Ia jugalah yang menetapkan Ka'bah sebagai
kiblat kaum muslimin. Sedang mengangkat kedua tangan merupakan
ekspresi paling sempurna dari permohonan dan rasa butuh, dan bahwa;
"Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Mulia, dan merasa malu menolak,
ketika seseorang mengangkat tangannya ke langit dan mengembalikannya
dalam keadaan kosong dan kecewa"
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Santun Dalam Berharap
Jika engkau telah melakukan semua itu, maka rangkailah kata-katamu
dalam doa dengan susunan yang baik, sopan dan indah.
Karena engkau sedang meminta, maka mulailah permohonan itu dengan
pujian-pujian yang baik kepada siapa engkau memohon.
Lalu haturkanlah selawat serta salam kepada rasulullah saw, sebab
"Itu akan dibalas sepuluh selawat dari Allah " (HR. Muslim)
Sebab, " Rasulullah saw pernah mendengar seorang laki laki berdoa
tanpa memuji Allah dan menghaturkan selawat baginya, maka beliaupun
mengatakan "Orang ini terlalu tergesa-gesa"
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Kemudian bertaubatlah dan memohon ampunlah (istigfar) atas dosa-dosa
yang telah engkau lakukan.
Sebab dosa-dosa itu akan menjadi hijab yang menghalangi sampainya doa
ke langit. Dan hanya taubat dan istigfar itu yang akan mengangkat
hijab itu. Nama Allah yang maknanya sesuai dengan makna permohonanmu.
Sebab,
"Rasulullah saw penah mendengar seorang laki laki berdoa dengan
mengucapkan:
"Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon pada-Mu dengan kesaksianku bahwa
Engkau adalah Allah, Tiada Tuhan selalin Engkau, Yang Maha Esa,
Tempat bergantung, Yang tiada beranak dan tidak di peranakkan, Yang
tiada sekutu bagi-Nya."
Maka Rasulullah saw pun bersabda;
"Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan sebuah nama yang jika
Ia di mintai dengan nama itu, Ia pasti memberi, dan jika Ia dipanggil
dengan nama itu, Ia pasti menjawab."
(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban).
* Lalu tutuplah doa itu dengan penuh keyakinan akan terkabul, sembari
menghaturkan pujian-pujian kepada Allah swt.
"Dan akhir dari doa mereka, adalah bahwa; segala puji bagi Allah,
Tuhan semesta alam"
(QS. Yunus : 10)
Memilih Waktu, Tempat dan Momentum yang Tepat
Diantara ajaran Rasulullah saw tentang doa adalah perlunya
memperhatikan waktu, tempat dan momentm tertentu, dimana Allah
berkenan menerima dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya dan tidak
menolaknya.
Adapun waktu waktu itu adalah ;
* sepertiga terakhir dari waktu malam
* ketika adzan sedang berkumandang
* antara adzan dan iqomat
* setelah shalat fardhu
* ketika imam naik ke mimbar di waktu Jum'at sampai selesai selesai
shalat
* dan saat-saat terakhir setelah Ashar dari hari Jum'at itu.
Adapun tempat-tempat tertentu itu,adalah ;
* ketika melihat Ka'bah
* ketika melihat masjid Rasulullah saw
* ketika melakukan Thawaf di Baitullah
* ketika berada di sisi multazam
* ketika berada di belakang maqam Ibrahim
* ketika berada di sisi sumur Zamzam
* ketika berada di atas bukit Shofa dan Marwah
* ketika bearada di Arafah, Mudzalifah, Mina
* ketika berada di sisi Jamarat (tempat melontar jumrah) yang tiga
* ketika berada di masjid
Adapun momentum yang tepat itu adalah;
* ketika turun hujan
* ketika menghadapi barisan musuh dalam perang
* ketika sujud dalam shalat
* ketika sedang terzalimi
* keti ka sedang berada dalam perjalanan
* ketika sedang berbuka puasa
Hijab Antara Langit dan Bumi
Boleh jadi engkau telah memenuhi semua syarat doa diatas, tapi engkau
melihat bahwa tak ada tanda-tanda doamu terkabul. Maka jika engkau
menyaksikan situasi itu, segeralah menengok kedalam dirimu apakah ada
hijab yang menghalangi doamu sampai ke langit :
Dosa.
Itulah salah satu hijab doa. Sebab dosa memang harus dibalas dengan
hukuman, dan hukumannya adalah penolakan. Sebutlah misalnya,
mengkomsumsi makanan atau minuman atau pakain yang haram. Itulah yang
disebut oleh Rasulullah saw dalam sabdanya;
yang melakukan perjalanan jauh,
rambutnya kusut masai,
wajahnya berdebu,
ia menengadahkan kedua tangannya ke langit,
sembari berseru;
"Ya Tuhan .. Ya Tuhan .."
Tapi makanannya haram,
minumannya haram,
pakaiannya haram,
dan di beri makan yang haram,
bagaimana mungkin doanya akan terkabul ?"
(HR. Muslim dan Abu Huraerah)
Berdoa untuk sebuah dosa.
Ini juga merupakan hijab yang menghalangi doa sampai ke langit.
Terlalu tergesa gesa mengharap jawaban.
Ini juga merupakan faktor yangmenyebabkan doa tertolak. Misalnya
ketika engkau mengatakan; "Aku telah berdoa, tapi tidak di kabulkan.
Jadi aku berhenti saja berdoa.Percuma"
Memutuskan tali silaturrahim.
Inilah faktor lain yang juga menghalangi doa sampai ke langit.
Tiga yang terakhir ini kita temukan dalam sabda Rasulullah saw ;
"Doa seorang hamba selalu akan terkabul,
selama ia tidak berdoa untuk sebuah dosa,
memutuskan tali silaturrahim,
dan tidak tergesa gesa."
(HR Muslim dan Abu Hurairah)
Kebaikan Yang Tertunda
Tapi jika engkau telah melakukan semua syarat itu, dan merasa tidak
melakukan dosa-dosa yang akan menghalangi doamu sampai ke langit,
bahkan juga senantiasa bertaubat dan memohon ampunan-Nya, namun doa
yang engkau sampaikan kepada Allah swt belum juga memperlihatkan
hasil, itulah saatnya engkau harus melakuan nasihat Ibnul Jauhari
berikut ini:
"Teruslah berdoa, dan jangan pernah bosan melakukannya. Sebab mungkin
penundaan jawaban lebih baik bagimu. Atau bahkan penerimaan itu sama
sekali bukan maslahat bagimu. Tapi engkau pasti di beri pahal. Dan
doamu dikabulkan dengan cara yang lebih bermanfaat bagimu. Dan boleh
jadi diantara manfaat itu bahwa permintaanmu tidak dikabulkan, tapi
diganti dengan sesuatu yang lain."
"Dan jika Iblis datang padamu lalu berkata; "Berapa banyak sudah
engkau berdoa, namun tak juga ada yang terkabul" Maka katakanlah
padanya ;
"Aku justru beribadah dengan doa itu. Dan aku percaya bahwa jawaban
doaku itu jelas ada. Tapi mungkin ia di tunda untuk maslahat yang
lain, dan jawaban itu tidak juga kunjung datang, yang pasti aku telah
beribadah dan mendapat pahala"
"Maka janganlah pernah memohon sesuatu tanpa menyertainya dengan
permintaan bahwa jawaban itu baik bagimu. Sebab boleh jadi ada bagian
dari dunia yang engkau minta, yang jawabannya justru akan
menghancurkanmu. Dan jika untuk urusan dunia engkau di perintahkan
bermusyawarah dan meminta pendapat sahabatmu dalam berbagai masalah
yang engkau tidak sangggup menyelesaikannya, dan melihat bahwa apa
yang terjadi padamu itu tidak bermanfaat, maka mengapa engkau tidak
menanyakan Tuhanmu tentang apakah yang engkau minta itu bermanfaat
bagimu atau tidak ? bukankah Tuhanmu yang Maha mengetahui semua
maslahat? Demikianlah istikharah itu merupakan bagian dari cara
bermusyawarah yang cerdas"
Seni Menggunakan Pedang
Demikianlah engkau melihat bahwa seni berdoa itu mirip dengan seni
menggunakan pedang. Pedang yang tajam itu jelas penting. Tapi yang
jauh lebih penting adalah orang yang memegang pedang itu. Maka pedang
yang tajam, yang tergenggam kuat dalam tangan dingin seorang
pemberani, yang digunakan pada waktu dan sasaran yang tepat; itulah
yang akan mematikan musuh.
Tapi jika ada salah satu dari unsur itu yang tidak efektif, maka
selamanya dia itu tak kan menghasilkan pengaruh apa-apa. Sekarang
apakah engkau menguasai seni menggunakan pedang yang bernama doa ???
Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang
pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku
dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah
ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi.
Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-
pucuk daunku."
Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah
ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat
gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan
tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan
terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan
pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk
mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya
aman."
Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang
kedua tadi, dan mencaploknya segera.
Renungan:
Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang
harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian,
keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap
terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup.
Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup
adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.
Oleh: Tidak Diketahui
Mengurangi Makan dan Tidur
Sebuah laku tirakat yang universal yang berlaku untuk seluruh makhluk hidup adalah puasa. Ulat agar bisa terbang menjadi kupu-kupu harus berpuasa terlebih dahulu, ular agar bisa ganti kulit harus puasa terlebih dahulu dan ayam agar bisa beranak pun harus puasa terlebih dahulu.
Secara budaya banyak hal yang dapat diraih melalui puasa. Orang-orang terdahulu tanpa mempermasalahkan sisi ilmiahnya aktivitas puasa telah berhasil mendapatkan segala daya linuwih atau keistimewaan melalui puasa yang lazim disebut tirakat.
Para spiritualis mendapatkan Wahyu maupun Wisik ( Petunjuk ghoib melalui puasa terlebih dahulu ). Dan tradisi itu masih terus dilestarikan orang-orang zaman sekarang. Intinya sampai kapanpun orang tetap meyakini dengan mengurangi makan dalam hal ini adalah puasa, seseorang akan memperoleh inspirasi baru, intuisi.
Tradisi kita, ketika secara budaya sudah tiada lagi tempat untuk bertanya, melalui puasa seseorang bisa mendapatkan telinga yang baru dan ketika ia tak lagi mampu berkata, dengan puasa seseorang mampu memperoleh mulut yang baru.
Secara logika, puasa adalah bentuk kesungguhan yang diwujudkan melalui melaparkan diri. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh saja yang sanggup melakukannya. Aktivitas ini jika ditinjau dari sisi ilmu batin, menunjukan bahwa kesungguhan memprogram niat itu yang akan menghasilkan kelebihan-kelebihan.
Hati yang diprogram dengan singguh-sungguh akan menghasilkan seseuatu yang luar biasa. Karena itu dalam menempuh ilmu batin, aktivitas puasa mutlak dibutuhkan. Karena didalam puasa itu tidak hanya bermakna melaparkan diri semata. Lebih dari itu, berpuasa memiliki tujuan manonaktifkan nafsu syaithoni.
Non aktifnya nafsu secara tidak langsung meninggikan taraf spiritual manusia, sehingga orang-orang yang berpuasa do’a nya makbul dan apa yang terusik dalam hatinya sering menjadi kenyataan.
Menurut Imam Syafi’i dengan berpuasa seseorang terhindar dari lemah beribadah, berat badannya, keras hatinya, tumpul pikirannya dan kebiasaan mengantuk. Dari penyelidikan ilmiah puasa diyakini memiliki pengaruh terhadap kesehatan manusia.
Orang-orang terdahulu memiliki ketajaman mata batin dan manjur Ilmu kanuragannya karena kuatnya dalam Laku Melek atau mengurangi tidur malam hari. Bahkan burung hantu yang dilambangkan sebagai lambang ilmu pengetahuan pun disebabkan karena kebiasannya “Tafakur “ pada malam hari.
Dalam filosofi ilmu batin, memperbanyak tafakur malam hari menyebabkan seseorang memiliki “Mata Lebar“, yaitu ketajaman dalam melihat dan membaca apa-apa yang tersirat dibalik kemisterian alam semesta ini.
Bahkan ketika agama Islam datang pun membenarkan informasi sebelumnya yang dibawa oleh agama lain. Hanya Islam yang menginformasikan bahwa dengan ber-Tahajud ketika orang lain terlelap dalam tidur, menyebabkan orang itu akan ditempatkan Allah SWT pada tempat yang terpuji.
Pada keheningan malam terdapat berbagai hikmah. Melawan “Nafsu“ tidur menuju ibadah kepada Allah SWT dan dalam suasana hening itu konsentrasi mudah menyatu. Saat inilah Allah SWT memberikan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya guna memohon apa saja yang diinginkan.
Banyak para spiritualis yang memiliki keunikan dalam ilmu batin bukan karena banyaknya ilmu dan panjangnya amalan yang dibacanya, melainkan karena laku prihatin pada malam harinya. Insya Allah seseorang yang membiasakan diri tafakur dan beribadah pada malam hari, maka Allah SWT akan memberikan keberkahan dalam ilmu-ilmunya.
Zikir Kalimah Toyyibah
Ada hal-hal yang tersembunyi dibalik zikir kalimah Toyyibah “ La ilaha illallah “ pertama, zikir ini disebut sebagai sebaik-baiknya zikir, berdasarkan hadist riwayat Nasa’i, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban, dan Hakim “ Afdhaluzd dzikri La ilaha Illallaahu “ yang artinya : sebaik-baik zikir adalah La ilaha illallah.
Kemudian pada hadist yang lain disebutkan bahwa dengan zikir kalimah Toyyibah ini menyebabkan pintu langit terbuka, selagi yang membaca kalimah itu orang yang menjauhi dosa-dosa besar. Sedangkan dengan mengamalkan zikir kalimah ini, sepanjang zikir ini diamalkan secara tulus ikhlas mengharap ridho Allah SWT, justru Allah yang akan mengatur potensi manusia. Dalam hadist Qudsy tersurat : “ Barang siapa disibukkan zikir kepada-Ku sehingga tidak sempat memohon dari-Ku maka Aku akan memberikan yang terbaik dari apa saja yang Ku berikan “
Artinya : hikmah dari zikir kalimah Toyyibah itu, seseorang akan diberi karunia oleh Allah SWT walau jenis karunia itu tidak dimintanya. Ini Yang disebut dengan rezeki yang tak terduga-duga.
Hikmah lain, dari membiasakan diri berzikir kalimah “ La ilaha illallah “, secara tidak langsung berarti merekam kalimat itu pada alam bawah sadar manusia. Seseorang dalam kondisi kritis, kalimat yang reflek muncul dari alam bawah sadarnya adalah kalimat yang paling akrab dengan lidah dan hatinya.
Maka, seseorang yang istiqomah dalam zikir kalimah “ La ilaha illallah “, bila saat sakaratul maut hendak menjemput, Insya Allah kalimat itu yang akan muncul dari mulutnya. Dengan demikian berlakulah janji Allah SWT bahwa seseorang yang diakhir hayatnya mengucapkan kalimat “ La ilaha illallah “, maka sorgalah balasannya.
Menyimak hal-hal dibalik kalimah Toyyibah ini, ada dua keuntungan yang bisa kita raih. Pertama keuntungan dunia berupa ketenangan hati akibat bias dari aktivitas zikir, juga keuntungan dunia berupa datangnya karunia yang dilimpahkan yang lebih baik dibanding hamba lain yang meminta.
Sedangkan pahala akhiratnya adalah menemui kematian dengan Khusnul Khotimah. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang memperoleh keuntungan dunia akhirat. Amin.
And there they were, on a flight from Cape Town to Durban, seated side by
side, two gentlemen from two different worlds.......After the formalities were
covered, the conversation continued......
Bob : Tell me why is it that a Muslim is very particular about the words
Halaal and Haraam ...... What do they mean ?
Yunus : That which is permissible is termed Halaal and that which is not
permissible is termed Haraam and it is the Quraan which draws the
distinction between the two.
Bob : Can you give me an example ?
Yunus : Yes, Islam has prohibited blood of any type. You will agree that a
chemical analysis of blood shows that it contains an abundance of uric acid,
a chemical substance which can be injurious to human health.
Bob : You're right about the toxic nature of uric acid, in the human being it is
excreted as a waste product....... in fact we are told that 98% of the bodies
uric acid is extracted from the blood by the kidneys and removed through
urination.
Yunus : Now I think that you'll appreciate the special prescribed method of
animal slaughter in Islam.
Bob : What do you mean ?
Yunus : You see.....the wielder of the knife, whilst taking the name of the
Almighty, makes an incision through the jugular veins, leaving all other veins
of the neck intact.
Bob : I see.....this causes the death of the animal by a total loss of blood
from the body, rather than an injury to any vital organ.
Yunus : Yes, were the organs, example the heart, the liver, or the brain
crippled or damaged, the animal could die immediately and its blood would
congeal in its veins and would eventually permeate (spread throughout) the
flesh. This implies that the animal flesh would be permeated and
contaminated with uric acid and therefore very poisonous ...... only today did
our dietitians realize such a thing.
Bob : Again, while on the topic of food........ Why do Muslims condemn the
eating of pork or ham or any foods related to pigs or swine.
Yunus : Actually, apart from the Quraan prohibiting the consumption of pig
flesh, ......in fact the Bible too in Leviticus chapter 11, verse 8, .....regarding
swine it says, "of their flesh (of the swine) shall you not eat, and of their
carcass you shall not touch; they are unclean to you."
Further, did you know that a pig cannot be slaughtered at the neck for it
does not have a neck ..........that is according to its natural anatomy. A
Muslim reasons that if the pig was to be slaughtered and fit for human
consumption the creator would have provided it with a neck.
Nonetheless, ........all that aside, I am sure you are well informed about the
harmful effects of the consumption of pork, in any form, be it pork chops ......
ham ...... bacon.......
Bob : The medical sciences find that there is a risk for various diseases as
the pig is found to be a host for many parasites and potential diseases.
Yunus : Yes, even apart from that ....as we talked about uric acid content in
the blood.....it is important to note that the pig's biochemistry excretes only
2% of its total uric acid content...... the remaining 98% remains as an
integral part of the body. This explains the high rate of Rheumatism (any of
various conditions characterized by inflammation or pain in muscles, joints,
or fibrous tissue) found in those who consume pork
Oleh : KH A Hasyim Muzadi
Baginda Rasul, tak pernah membiarkan seorang penanya pulang tanpa jawaban. Beliau adalah lumbung ilmu dan akan selalu berusaha memberikan jawaban atas segala pertanyaan umatnya. Tak ada seorang pun di antara umatnya yang beranjak dari hadapan Rasul, kecuali ia telah memiki jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.
Dalam sebuah al-Hadits as-Syarif beliau bersabda, ''Ana madiinatul ilmi (sayalah kota segala ilmu). Tetapi, ada satu pertanyaan, yang Rasullullah tidak langsung menjawabnya. Apa gerangan pertanyaan itu sehingga Rasulullah harus meminta waktu, mengernyitkan kening dan memeras otak? ''Wahai Baginda Rasul apa yang dimaksud dengan ikhlas?'' tanya seorang sahabatnya.
Setelah berdiam, Rasulullah memusatkan perhatian, dan menyampaikan pertanyaan serupa kepada Malaikat Jibril As. ''Aku bertanya kepada Jibril As tentang ikhlas, apakah ikhlas itu?'' Lalu Jibril bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah SWT menjawab Jibril dengan berfirman, ''Suatu rahasia dari rahasia-KU yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-KU yang Ku-cintai.''
Kalau gambaran ikhlas itu sebagaimana diajarkan Allah melalui Jibril yang disampaikan kepada Baginda Rasul tersebut, maka betapa banyaknya di antara kita yang tidak memilikinya. Sebab, hanya hamba-hamba yang dicintai Allah saja yang dapat memiliki ''makhluk'' ikhlas ini.
Menurut Imam al-Qusyairi an-Naisabury, bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuannya.
Begitu sulitnya menemukan sosok ikhlas di hati semua orang, sampai-sampai Baginda Rasul berhati-hati membuat definisi ikhlas. Oleh sebab itu, Rasul lantas memberi jaminan kepada umatnya yang punya sifat terhormat ini. Baginya, demikian Rasulullah, belenggu apapun tak akan berhasil, walau mampir sekali pun di hati seorang yang ikhlas (mukhlis).
Seperti apakah ciri-ciri orang yang ikhlas? Sahabat Anas Ibnu Malik menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, ''Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara; ikhlas beramal hanya bagi Allah, memberikan nasihat yang tulus kepada seorang penguasa dan tetap berkumpul dengan masyarakat Muslim.''
Begitu beratnya sifat ini menjadi pola hidup seseorang, sampai-sampai ada ujaran yang menyebutkan, ''jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi,'' kata Abu Ya'qub as-Susi.
Bagi seorang yang ikhlas, seluruh perbuatannya akan selalu berdasarkan suara nurani untuk kebaikan semua orang dan semua makhluk. Jika timbul dalam hatinya sebuah niat baik, ia akan melakukannya. Hidupnya mengalir seperti air bah, menerjang apa saja yang ada di depannya. Untuk apa yang dia perbuat, dia sudah melupakan apa yang disebut dengan pujian dan cercaan. ''Amalnya tak lagi memberi ruang bagi lahirnya pujian atau cercaan,'' kata Dzun Nun al-Mishry. Dia akan tetap bekerja sesuai pesan Allah, meski manusia di sekitarnya memberikan pujian atau malah mencelanya.
Sejatinya, Indonesia amat membutuhkan orang seperti ini untuk dijadikan pemimpin yang dapat mengeluarkan bangsa dari deraan krisis yang tiada henti. Pemimpin semacam ini akan selalu bekerja sesuai amanat rakyat, meski dia sadar tak ada orang yang memujinya. Dia selalu bekerja tanpa kompromi terhadap pelanggar dan pengkhianat rakyat, meski tahu akan dicerca banyak orang, bahkan koleganya.
Bagi orang yang hidupnya diliputi tabir keikhlasan, malah akan selalu melupakan apa yang telah dia amalkan. Anehnya, para pemimpin yang mendapatkan amanat rakyat justru tidak pernah mau bekerja dan beramal. Bahkan, kalau pun harus bekerja, dia masih menunggu apakah memang terbuka peluang bagi munculnya pujian. Keberaniannya memberantas korupsi langsung mengkerut, setelah berhitung betapa banyak yang akan mencercanya.
Bagaimana mungkin pemimpin semacam ini akan berani menghadapi risiko dicerca sementara untuk beramal sesuai tugasnya saja sudah sulit diharapkan. ''Ia akan melupakan amalnya ketika dia beramal,'' kata Abu Utsman al-Maghriby.
Bahkan, seseorang yang ikhlas dalam beramal, ia juga akan melupakan hak imbalannya di akhirat kelak. ''Ia akan melupakan haknya untuk memperoleh imbalan pahala di akhirat karena amal baiknya itu.''
Sungguh sulit mencari pemimpin semacam ini. Sampai janji imbalan yang disiapkan Allah sekali pun, ia akan melupakannya. Dia tidak pernah berdagang dengan Allah dalam setiap amalnya. Amalnya benar-benar dilakukan bukan karena pujian dan cercaan, melupakannya setelah beramal, bahkan tak peduli dengan hak pahala yan telah dijanjikan Allah kepadanya. Sungguh!
Mengukur ikhlas tidaknya seorang pemimpin, harus berpedoman kepada definisi agama dan jangan pernah menimbangnya sesuai selera, pendapat serta budaya mengenai keikhlasan. Apabila disederhakan, keikhlasan adalah pekerjaan yang benar dan diniati hanya untuk Allah, meski dengan bentuk dan proses yang bervariasi.
Menjadi sangat ironis karena bangsa ini sudah tidak terbiasa memberi sehingga kepada seorang guru mengaji, dia menolak memberikan imbalan hanya dengan alasan kuatir menggangu keikhlasan sang ustadz. Ada pula yang berkilah, ''maaf saya tidak bisa memberikan ongkos taksi untuk pulang karena saya kuatir Pak Ustadz masuk dalam kategori orang yang menjual ayat-ayat Allah,'' demikian alasan lain seorang murid mengaji. Bagi komunitas masyarakat semacam ini, orang yang ikhlas akan selalu ''membeku'', tidak memiliki dinamika hidup dan tinggal jauh dari pusat keramaian.
Seorang yang mukhlis akan selalu menerima dalam posisi apapun; ikhlas karena kaya dan ikhlas pula karena fakir. Seseorang bisa ikhlas karena kaya dan bisa tidak ikhlas karena fakir. Bisa juga orang ikhlas dalam kefakiran tetapi tidak ikhlas dalam kekayaan. Keikhlasan amat tidak perlu ditampak-tampakkan karena semakin mengklaim dirinya ikhlas, kadar keikhlasannya menurun. Ibarat spiritus, begitu tutupnya dibuka, langsung menguap. Orang ikhlas, biar dibilang tidak ikhlas tidak akan membela diri, sebab kalau dia marah karena dikatakan tidak ikhlas, itu tanda-tanda ketikadikhlasan.
Seperti apa buah ikhlas? Hasil sebuah keikhlasan dapat dilihat di belakang, bukan di depan dan bukan di tengah. Karena di dalam Alquran disebutkan, ''Walillaahi 'aqibatul umuur.'' Milik Allah resultan dari semua fenomena. Allah hanya akan membuktikan sebuah ajaran-Nya pada akhir sebuah fenomena.
Berkali-kali kita saksikan di sangat banyak tempat seorang ulama yang hanya dengan kekuatan dirinya sendiri membabat hutan kemudian menjelma pesantren beribu santri. Itu hasil keikhlasan, bukan karena kepandaiannya. Sampai dia wafat, hasilnya masih lintas generasi. Sementara banyak orang yang membuat panitia dengan 50 orang semua sarjana, bikin mushalla kecil saja tidak jadi-jadi. Padahal, sudah beribu-ribu proposal dikirim ke sana kemari.
Pemimpin yang didengar dunia adalah pemimpin yang ikhlas karena ajaran ikhlas bersifat universal, lintas agama, bukan monopoli Islam. Orang non-Islam bisa ikhlas dengan berkonotasi humanitas. Di Islam konotasinya Li Wajhillah. Kita bermohon kepada Allah agar di negeri ini lahir pemimpin yang ikhlas, yang memimpin bukan untuk dirinya, tetapi karena itu perintah Allah. Wallaahu A’lamu Bisshowaab.